Woow.. Begitu senangnya apabila kita mendengar tanggal 31 Desember, tentu pikiran dan hati kita tertuju pada malam tahun barunya,dan seluruh persiapan akan kita lakukan semaksimal mungkin untuk menyambut datangnya tahun baru masehi.Mulai dari anak usia dini hingga yang tua pun tak luput untuk ikut serta dan berpartisipasi dalam merayakan ini. terlihat dipinggir -pinggir jalan begitu banyak orang-orang yang berjualan properti untuk menyambutan tahun baru ini.

Ketika kita pertanyakan, apa sebenarnya tujuan mereka melakukan penyambutan terhadap datangnya tahun baru masehi sedemikian rupa ?. Jawabannya menjadi semu, ada orang menjawab “bersyukur” karena kita telah sampai pada tahun baru ini. Tapi banyak juga yang menjawab cuma sekedar hiburan, senang saja, dan bahkan ada yang menjawab untuk hura-hura dan ada pula yang mengatakan untuk penyambutan tahun baru sebagai penyambutan perubahan diri terhadap tahun yang akan datang. Berarti tentu mereka belum paham apa sebenarnya makna yang terkandung dibalik penyambutan datangnaya tahun baru itu

Tetapi, Sungguh ironis dan disayangkan pada saat pergantian tahun baru Hijriah, Semuanya semu tidak ada yang dilakukan apapun dan hanya menganggap sebagai angin lalu. Memang ada juga yang merayakannya, tetapi itu hanya secumit dari sekian banyaknya manusia manusia islami yang berada ditanah air ini. Apakah mereka telah melupakan islam.? yang mereka pilih sebagai agama dan keyakinan mereka.

Kalau dilihat dari sejarah, tahun hijriyah dicatat berdasarkan bukti sejarah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Dari Kota Makkah ke Kota Yatsrib atau yang sekarang disebut Kota Madinah demi untuk menyelamatkan agamanya (islam).

Dalam islam, tradisi penyambutan terhadap peristiwa sejarah mimang sangat dianjurkan, seperti tanggal 27 Rajab, memperingati pristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad dalam rangka menerima perintah shalat, tanggal 12 Rabiul Awal (Bulan Maulid) bulan kelahiran Nabi Muhammada SAW. 1 Syawal (Idul Fitri), merayakan kemenang karena telah selesai menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh, 10 Dzul Hijjah (Idul Adha) memperingati pristiwa Nabi Ibrahim ketika diperintah mengurbankan putranya Nabi Ismail, 15 sya’ban (Nisfu Sya’ban) penutupan pencatatan amal kita selama satu tahun, dan termasuk 1 Muharram tahun baru hijriyah, memperingati pristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Kota Makkah ke Kota Madinah.

Dalam memperingati tahun baru hijriyah, tradisi yang harus dilakukan memang tidak sama dengan tradisi yang dilakukan untuk memperingati tahun baru masehi. Pada tahun baru hijriyah kita dianjurkan memperingati dengan cara berpuasa dari tanggal 30 Dzul Hijjah dan tanggal 1 Muharram dengan balasan akan diampuni dosanya selama 50 tahun yang telah berlalu, membaca do’a ahir tahun sebelum magrib pada tanggal 30 Dzul Hijjah dan membaca do’a alwal tahun sesudah magrib pada tanggal 1 Bulan Muharramakan. Akan tetapi sangat sedikit umat islam yang merespon terhadap anjuran tersebut. Padahal semestinya disamping anjuran tersebut, kita perlu membuat moment-moment lain yang dapat menampakkan kebesaran islam, misal menyantuni fakir miskin, melakukan kajian keislaman, dan bahkan melaksanakan lomba-lomba keislaman yang dapat menampakkan dan memeriahkan syiar-syiar islam.

Dari sekilas sejarah tersebut, tentu kita sebagai umat islam yang baik seharusnya turut berpartisipasi menyambut datangnya tahun baru hijriah dengan sesuatu yang bermanfaat dan kalau bisa kita harus menampakkan keislaman dan rasa bersyukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kita rizki, umur dan kesehatan sehingga kita masih bisa mencicipi tahun baru hijriah.